![]() |
| Dr.Herman, S.Pd.,M.Pd |
Masa Kecil Penuh Nilai Agama
Dr. Herman lahir dan tumbuh di lingkungan sederhana di Kampung Sumbawa, Kelurahan Tanjung, Kota Bima. Ia merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, pasangan Arsyad Ibrahim dan Saadiah Ismail.
Sejak kecil, ia dibesarkan dalam keluarga yang menanamkan nilai-nilai agama dan akhlak mulia. Didikan orang tua yang menekankan pentingnya pendidikan agama menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter, kesabaran, dan kegigihannya menjalani kehidupan.
Dalam keseharian yang sederhana, Herman kecil tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, disiplin, dan memiliki tekad kuat untuk terus menimba ilmu. Nilai religius yang ia peroleh sejak dini tidak hanya membentuk integritas pribadinya, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap sesama—sebuah bekal penting dalam perjalanan akademik dan sosialnya.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi dan fasilitas, hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk belajar. Justru dari kondisi tersebut tumbuh tekad kuat untuk terus melangkah maju. Berbagai rintangan yang sering kali membuat orang lain menyerah justru menjadi motivasi baginya untuk terus berjuang.
Menembus Program Doktor dengan Prestasi Gemilang
Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, Herman melanjutkan pendidikan tinggi hingga akhirnya berhasil meraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Pada 4 Maret 2026, ia mencatatkan tonggak penting dalam hidupnya dengan lulus Ujian Promosi Doktor pada bidang Pendidikan dan Keguruan. Yang lebih membanggakan, studi doktoralnya diselesaikan hanya dalam waktu 2 tahun, 0 bulan, 3 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,92 dengan predikat Sangat Memuaskan.
Disertasi yang ia angkat berjudul “Analisis Penggunaan Media Sosial dalam Penguatan Ideologi Pancasila pada Peserta Didik di MAN 2 Kota Bima.” Penelitian ini menyoroti bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.
Pengabdian Panjang di Dunia Akademik
Dedikasi Dr. Herman di dunia pendidikan dimulai sejak tahun 1998 sebagai dosen tetap di STKIP Bima, yang kini telah berkembang menjadi Universitas Nggusuwaru (Unswa).
Selama pengabdiannya, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, di antaranya:
Wakil Ketua III STKIP Bima Bidang Kemahasiswaan (2012–2016)
Kepala Bagian Humas STKIP Bima (2016–2020)
Wakil Rektor II Universitas Nggusuwaru Bidang Administrasi dan Keuangan (2020–2023)
Karier panjang tersebut menunjukkan komitmennya dalam memajukan pendidikan tinggi di Bima.
Aktif Berorganisasi Sejak Mahasiswa
Selain berprestasi di bidang akademik, Dr. Herman juga aktif dalam berbagai organisasi sejak masa mahasiswa. Ia pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bima hingga tingkat Badko Nusra.
Beberapa organisasi yang pernah diikutinya antara lain:
Pengurus HMI Cabang Persiapan Bima (1994)
Ketua I Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Bima (1995)
Wakil Sekretaris Jenderal HMI Cabang Bima (1996)
Ketua Kosgoro Muda Cabang Bima (1997)
Pengurus Badko HMI Nusra (1997–1999)
Pengurus ICMI Kabupaten Bima (1999–2000)
Pengurus KAHMI Kabupaten Bima (1999–2002)
Pengurus KAHMI Kota Bima (2022–2025)
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Dara (2021–2025)
Wakil Ketua I Persekobi Kota Bima (2012–2016)
Ia juga aktif di lingkungan masyarakat sebagai Ketua RT di Kelurahan Dara sejak tahun 2003 hingga sekarang, serta menjadi Dewan Pembina LSM Sahabat Hijau Lestari NTB (2022–2026).
Keluarga sebagai Sumber Kekuatan
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi dan aktivis organisasi, Dr. Herman tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Pada tahun 2001, ia menikahi Endang Ratnasari, S.Pd.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak:
Muhammad Imam Islamiyah, mahasiswa semester akhir di Universitas Bumi Gora Mataram.
Nabilla Anissaturrahmah, mahasiswi UIN Mataram Jurusan Perbankan Syariah.
Shakilla Zahratunnisa, pelajar MIN Tolobali Kota Bima.
Inspirasi dari Anak Kampung
Kisah hidup Dr. Herman menjadi potret nyata perjuangan seorang anak kampung yang mampu menembus batas keterbatasan melalui pendidikan. Ketekunan, kerja keras, serta doa menjadi kunci utama yang mengantarkannya meraih prestasi akademik tertinggi.
Ia tidak hanya menjadi seorang akademisi, tetapi juga teladan bagi generasi muda tentang pentingnya pendidikan, organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita tinggi, melainkan fondasi untuk membangun keteguhan hati. Dengan semangat pantang menyerah, Dr. Herman menunjukkan bahwa ilmu dan iman dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.