![]() |
| Foto Museum Asi Mbojo (atas), Serasuba dan Masjid Sultan Salahuddin..foto Prokopim Bima dan Fahru Rizki |
JangkaBima.Histori.- Berdiri di pusat Kota Bima, Kompleks Cagar Budaya Asi Mbojo menyimpan kekayaan historis dan filosofis yang mendalam. Salah satu keunikan utama dari cagar budaya ini terletak pada konsepsi tata letak bangunannya yang menyiratkan harmoni kehidupan bermasyarakat.
Secara
geografis, Istana Bima (Asi Mbojo) dibangun menghadap ke arah barat, tepat di
depan sebuah alun-alun atau tanah lapang luas yang dikenal sebagai Lapangan
Serasuba dan disebelah selatan berdiri Masjid Kesultanan. Hubungan keruangan
ini bukan sekadar penataan kota biasa, melainkan perwujudan konsep filosofis
yang menyatukan unsur pemerintahan, agama, dan rakyat.
Makna di Balik
Nama 'Serasuba'
dikutip dari https://portal.bimakota.go.id/web/detail-berita/40/ Dalam bahasa lokal, nama Serasuba memiliki arti yang sakral. Sera berarti tanah lapang, sedangkan Suba bermakna perintah atau titah. Secara harfiah, Serasuba adalah tempat diberikannya perintah atau titah raja.
Di lapangan
inilah, sultan atau raja tampil secara terbuka untuk menyapa rakyat, menggelar
upacara adat, merayakan hari besar keagamaan, serta menjadi arena latihan bagi
pasukan kesultanan.
Saksi Bom Sekutu, Pada masa Perang Dunia II, pesawat Sekutu melakukan serangan udara di
wilayah Bima yang menargetkan fasilitas militer dan aset Kesultanan, termasuk
Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, untuk menekan pasukan Dai Nippon. (Hidayatul Akbar1, Antariksa, Christia Meidiana)
Simbol Kemerdekaan, Setelah proklamasi, lapangan ini menjadi tempat bersejarah dikibarkannya
Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di tanah Bima, yang membuktikan
dukungan Kesultanan terhadap Republik Indonesia. (SMPN11Bimakota)
Melengkapi
keutuhan tata ruang tersebut, di Kampung Sigi yang terletak di sebelah selatan
alun-alun, berdiri tegak Masjid Sultan Muhammad Salahuddin yang megah. Rumah
ibadah ini menjadi bukti nyata sekaligus rekam jejak sejarah keemasan
Kesultanan Bima pada masanya.
Berdasarkan
catatan sejarah, masjid kuno ini pertama kali dibangun oleh Sultan Abdul Kadim
Muhammad Syah bersama Wajir Ismail pada tahun 1337 Hijriah. Dalam
perjalanannya, bangunan suci ini sempat direkonstruksi menjadi bangunan megah
pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid sekitar tahun 1872 Masehi. Meski
bernilai sejarah tinggi, masjid ini sempat mengalami cobaan berat ketika hancur
akibat hantaman bom sekutu selama berkecamuknya Perang Dunia Kedua.
Integrasi
keruangan antara bangunan istana (pemerintahan), masjid (agama), dan alun-alun
Serasuba (rakyat) membentuk satu kesatuan sosiologis utuh yang menyiratkan
hubungan harmonis tiga pilar bangsa, yang terus hidup hingga hari ini.
Kaitan erat
Lapangan Serasuba tidak bisa dilepaskan dari Asi Mbojo yang kini berfungsi
sebagai Museum Bima. Bangunan bergaya Eropa eksotis ini merupakan monumen fisik
terakhir dari kejayaan Kerajaan dan Kesultanan Bima. Sejarah mencatat, di
istana inilah bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di tanah Bima.
Eksistensi
istana di Bima sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-11 Masehi.
Sebelum bangunan permanen saat ini berdiri, terdapat Asi Bou (Istana Baru) yang
difungsikan sebagai tempat tinggal sementara Sultan Muhammad Salahuddin selama
proses pembangunan Asi Mbojo.
Asi Mbojo
dirancang oleh arsitek kelahiran Ambon bernama Rehatta atas undangan pemerintah
kolonial Belanda, mulai dibangun pada tahun 1927. Dibangun secara gotong-royong
bersama masyarakat dan dipimpin oleh Bumi Jero Istana, bangunan permanen
berlantai dua ini akhirnya diresmikan pada tahun 1929.
Setelah masa
kesultanan berakhir, fungsi bangunan ini sempat berganti-ganti, mulai dari
Gedung Daerah, Asrama Kompi, hingga Kampus Sunan Giri.
Titik balik
pelestarian bangunan bersejarah ini terjadi pada 10 Agustus 1989 ketika resmi
dialihfungsikan menjadi Museum Asi Mbojo oleh Gubernur NTB H. Warsito dan
Bupati Bima H. Oemar Harun. Pada 14 Januari 1997, dilakukan renovasi menyeluruh
untuk menata kembali benda-benda pusaka kesultanan.
Kini, demi
menjaga nilai sejarahnya yang tidak ternilai bagi generasi masa depan, bangunan
ini telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dengan nomor
registrasi RNCB.20160804.02.001143.(red)
#sejarah #asimbojo #bima #kotabima #cagarbudaya #serasuba #polemik #ntb


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.