-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Begini Sejarah Panjang Serasuba hingga Menjadi Bagian Cagar Budaya

| Kamis, Juni 25, 2026 WIB Last Updated 2026-06-25T14:12:22Z
Foto Museum Asi Mbojo (atas), Serasuba dan Masjid Sultan Salahuddin..foto Prokopim Bima dan Fahru Rizki

JangkaBima.Histori.- Berdiri di pusat Kota Bima, Kompleks Cagar Budaya Asi Mbojo menyimpan kekayaan historis dan filosofis yang mendalam. Salah satu keunikan utama dari cagar budaya ini terletak pada konsepsi tata letak bangunannya yang menyiratkan harmoni kehidupan bermasyarakat.

 

Secara geografis, Istana Bima (Asi Mbojo) dibangun menghadap ke arah barat, tepat di depan sebuah alun-alun atau tanah lapang luas yang dikenal sebagai Lapangan Serasuba dan disebelah selatan berdiri Masjid Kesultanan. Hubungan keruangan ini bukan sekadar penataan kota biasa, melainkan perwujudan konsep filosofis yang menyatukan unsur pemerintahan, agama, dan rakyat.

 

Makna di Balik Nama 'Serasuba'

dikutip dari https://portal.bimakota.go.id/web/detail-berita/40/ Dalam bahasa lokal, nama Serasuba memiliki arti yang sakral. Sera berarti tanah lapang, sedangkan Suba bermakna perintah atau titah. Secara harfiah, Serasuba adalah tempat diberikannya perintah atau titah raja.

Di lapangan inilah, sultan atau raja tampil secara terbuka untuk menyapa rakyat, menggelar upacara adat, merayakan hari besar keagamaan, serta menjadi arena latihan bagi pasukan kesultanan.

 

Saksi Bom Sekutu, Pada masa Perang Dunia II, pesawat Sekutu melakukan serangan udara di wilayah Bima yang menargetkan fasilitas militer dan aset Kesultanan, termasuk Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, untuk menekan pasukan Dai Nippon. (Hidayatul Akbar1, Antariksa, Christia Meidiana)

 

Simbol Kemerdekaan, Setelah proklamasi, lapangan ini menjadi tempat bersejarah dikibarkannya Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di tanah Bima, yang membuktikan dukungan Kesultanan terhadap Republik Indonesia. (SMPN11Bimakota)

 

Melengkapi keutuhan tata ruang tersebut, di Kampung Sigi yang terletak di sebelah selatan alun-alun, berdiri tegak Masjid Sultan Muhammad Salahuddin yang megah. Rumah ibadah ini menjadi bukti nyata sekaligus rekam jejak sejarah keemasan Kesultanan Bima pada masanya.

 

Berdasarkan catatan sejarah, masjid kuno ini pertama kali dibangun oleh Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah bersama Wajir Ismail pada tahun 1337 Hijriah. Dalam perjalanannya, bangunan suci ini sempat direkonstruksi menjadi bangunan megah pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid sekitar tahun 1872 Masehi. Meski bernilai sejarah tinggi, masjid ini sempat mengalami cobaan berat ketika hancur akibat hantaman bom sekutu selama berkecamuknya Perang Dunia Kedua.

 

Integrasi keruangan antara bangunan istana (pemerintahan), masjid (agama), dan alun-alun Serasuba (rakyat) membentuk satu kesatuan sosiologis utuh yang menyiratkan hubungan harmonis tiga pilar bangsa, yang terus hidup hingga hari ini.

 

Kaitan erat Lapangan Serasuba tidak bisa dilepaskan dari Asi Mbojo yang kini berfungsi sebagai Museum Bima. Bangunan bergaya Eropa eksotis ini merupakan monumen fisik terakhir dari kejayaan Kerajaan dan Kesultanan Bima. Sejarah mencatat, di istana inilah bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di tanah Bima.

 

Eksistensi istana di Bima sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-11 Masehi. Sebelum bangunan permanen saat ini berdiri, terdapat Asi Bou (Istana Baru) yang difungsikan sebagai tempat tinggal sementara Sultan Muhammad Salahuddin selama proses pembangunan Asi Mbojo.

 

Asi Mbojo dirancang oleh arsitek kelahiran Ambon bernama Rehatta atas undangan pemerintah kolonial Belanda, mulai dibangun pada tahun 1927. Dibangun secara gotong-royong bersama masyarakat dan dipimpin oleh Bumi Jero Istana, bangunan permanen berlantai dua ini akhirnya diresmikan pada tahun 1929.

 

Setelah masa kesultanan berakhir, fungsi bangunan ini sempat berganti-ganti, mulai dari Gedung Daerah, Asrama Kompi, hingga Kampus Sunan Giri.

 

Titik balik pelestarian bangunan bersejarah ini terjadi pada 10 Agustus 1989 ketika resmi dialihfungsikan menjadi Museum Asi Mbojo oleh Gubernur NTB H. Warsito dan Bupati Bima H. Oemar Harun. Pada 14 Januari 1997, dilakukan renovasi menyeluruh untuk menata kembali benda-benda pusaka kesultanan.

 

Kini, demi menjaga nilai sejarahnya yang tidak ternilai bagi generasi masa depan, bangunan ini telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dengan nomor registrasi RNCB.20160804.02.001143.(red)

#sejarah #asimbojo #bima #kotabima #cagarbudaya #serasuba #polemik #ntb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar



Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.