![]() |
| Wakil Ketua DPRD RI sekaligus Bendahara Umum DPP Partai Golkar, Sari Yuliati |
Dikutip dari
laman berita WartaLombik, dalam arahannya, legislator asal Dapil NTB II ini
menegaskan bahwa kerja nyata di lapangan tidak lagi cukup jika tidak dibarengi
dengan penguasaan narasi di ruang digital. Menurutnya, dinamika politik saat
ini telah bergeser ke arah kemampuan mengelola opini publik melalui media
sosial.
"Golkar
tak mau lagi diam di ruang digital. Kita harus proaktif, bukan hanya jadi
korban narasi pihak lain," tegas Sari Yuliati dalam keterangannya (28/2/2026).
Sari menyoroti
fenomena "kerja dalam senyap" yang selama ini sering menjadi
kebanggaan kader lama. Ia menilai, di era informasi yang sangat cepat, persepsi
masyarakat lebih banyak dibentuk oleh apa yang mereka lihat di layar ponsel
daripada apa yang terjadi secara fisik tanpa dokumentasi yang kuat.
"Politik
hari ini adalah tentang bagaimana kita mengelola opini dan narasi. Kerja nyata
itu wajib, tapi tanpa publikasi yang masif dan cerdas di ruang digital, kerja
keras bapak-ibu sekalian akan lewat begitu saja tanpa meninggalkan jejak di
hati masyarakat," lanjutnya.
Pernyataan
ini muncul sebagai bagian dari upaya transformasi Partai Golkar menuju partai
yang modern dan inklusif. Sari juga menantang para kader untuk tidak hanya
memahami literasi politik, tetapi juga mampu mengonversi aktivitas digital
menjadi instrumen pemenangan yang efektif.
Sebagai
tokoh yang kini menduduki kursi pimpinan DPR RI, Sari
berharap kader Golkar di NTB menjadi motor penggerak utama dalam memenangkan
narasi positif partai, mengingat tantangan politik tahun 2026 dan ke depan akan
semakin bertumpu pada pertempuran ideologi di media sosial.
“Kalau dulu ada pepatah tangan kanan memberi, tangan
kiri tidak boleh tahu, sekarang berbeda. Apa yang kita lakukan untuk masyarakat
harus dikomunikasikan. Kalau tidak, publik tidak akan pernah tahu,” tegasnya di
hadapan peserta.
Karena itu, ia mendorong kader Golkar diseluruh NTB mulai
membangun kekuatan digital yang terorganisir dan terarah “Media sosial itu
seperti dua sisi mata pisau. Bisa mengangkat seseorang, tapi juga bisa
menjatuhkan secara brutal,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa penguatan media sosial
bukan untuk pencitraan berlebihan, melainkan memastikan setiap kerja dan
pengabdian kader terdokumentasi serta diketahui masyarakat luas.
Bagi Sari, transparansi atas kerja politik adalah
bagian dari tanggung jawab moral kepada konstituen. Meski demikian, ia memberi
batas tegas agar perang narasi di ruang digital tidak berubah menjadi serangan
personal.
Penutup, Sari berharap kader Golkar di daerah mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap politik yang semakin kompetitif, di mana pertarungan bukan hanya terjadi di panggung nyata, tetapi juga di linimasa media sosial.(red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.