-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ultimatum Sari Yuliati untuk Kader Golkar NTB, Kuasai Perang Narasi Digital

| Minggu, Maret 01, 2026 WIB Last Updated 2026-03-01T11:04:45Z

Wakil Ketua DPRD RI sekaligus Bendahara Umum DPP Partai Golkar, Sari Yuliati
Mataram, JB.-Wakil Ketua DPR RI sekaligus Bendahara Umum DPP Partai Golkar, Sari Yuliati, beri ultimatum keras kepada seluruh kader Partai Golkar di Nusa Tenggara Barat (NTB), kuasai perang narasi digital dan tinggalkan pola kerja politik konvensional yang minim publikasi.


Dikutip dari laman berita WartaLombik, dalam arahannya, legislator asal Dapil NTB II ini menegaskan bahwa kerja nyata di lapangan tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan penguasaan narasi di ruang digital. Menurutnya, dinamika politik saat ini telah bergeser ke arah kemampuan mengelola opini publik melalui media sosial.

 

"Golkar tak mau lagi diam di ruang digital. Kita harus proaktif, bukan hanya jadi korban narasi pihak lain," tegas Sari Yuliati dalam keterangannya (28/2/2026).

 

Sari menyoroti fenomena "kerja dalam senyap" yang selama ini sering menjadi kebanggaan kader lama. Ia menilai, di era informasi yang sangat cepat, persepsi masyarakat lebih banyak dibentuk oleh apa yang mereka lihat di layar ponsel daripada apa yang terjadi secara fisik tanpa dokumentasi yang kuat.

 

"Politik hari ini adalah tentang bagaimana kita mengelola opini dan narasi. Kerja nyata itu wajib, tapi tanpa publikasi yang masif dan cerdas di ruang digital, kerja keras bapak-ibu sekalian akan lewat begitu saja tanpa meninggalkan jejak di hati masyarakat," lanjutnya.

 

Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari upaya transformasi Partai Golkar menuju partai yang modern dan inklusif. Sari juga menantang para kader untuk tidak hanya memahami literasi politik, tetapi juga mampu mengonversi aktivitas digital menjadi instrumen pemenangan yang efektif.

 

Sebagai tokoh yang kini menduduki kursi pimpinan DPR RI, Sari berharap kader Golkar di NTB menjadi motor penggerak utama dalam memenangkan narasi positif partai, mengingat tantangan politik tahun 2026 dan ke depan akan semakin bertumpu pada pertempuran ideologi di media sosial.

 

“Kalau dulu ada pepatah tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu, sekarang berbeda. Apa yang kita lakukan untuk masyarakat harus dikomunikasikan. Kalau tidak, publik tidak akan pernah tahu,” tegasnya di hadapan peserta.

 

Karena itu, ia mendorong kader Golkar diseluruh NTB mulai membangun kekuatan digital yang terorganisir dan terarah “Media sosial itu seperti dua sisi mata pisau. Bisa mengangkat seseorang, tapi juga bisa menjatuhkan secara brutal,” ujarnya.

 

Namun, ia menekankan bahwa penguatan media sosial bukan untuk pencitraan berlebihan, melainkan memastikan setiap kerja dan pengabdian kader terdokumentasi serta diketahui masyarakat luas.

 

Bagi Sari, transparansi atas kerja politik adalah bagian dari tanggung jawab moral kepada konstituen. Meski demikian, ia memberi batas tegas agar perang narasi di ruang digital tidak berubah menjadi serangan personal.

 

Penutup, Sari berharap kader Golkar di daerah mampu beradaptasi dengan perubahan lanskap politik yang semakin kompetitif, di mana pertarungan bukan hanya terjadi di panggung nyata, tetapi juga di linimasa media sosial.(red)

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar



Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.