![]() |
| Anggota DPRD NTB, H Muhammad Aminurllah saat tinjau Kondisi lahan pertanian produktif di kelurahan terus tergerus banjir |
Aji Maman menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Dr. Lalu
Muhamad Iqbal (periode 2025–2030), Ketahanan Pangan telah
ditetapkan sebagai salah satu dari tiga pilar strategis pembangunan NTB tahun
2026, berdampingan dengan penanggulangan kemiskinan dan pariwisata. Namun,
pilar tersebut dinilai rapuh karena aset utamanya—yakni lahan pertanian—terus
hilang diterjang bencana tanpa penanganan permanen.
Ironi Ketahanan Pangan di Tengah Abrasi Sungai
Menurut Aji Maman, lahan pertanian produktif di sepanjang Daerah Aliran
Sungai (DAS) Lampe dan Kodo terus menyusut setiap tahun akibat banjir yang
tidak tertangani dengan baik.
“Ini ironi. Ketahanan pangan jadi prioritas, tapi lahan pertanian justru
hilang sedikit demi sedikit. Di DAS Lampe dan Kodo, banyak lahan habis terkikis
banjir setiap tahun,” cetus Aji Maman dengan nada tajam.
Ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan mustahil tercapai jika benteng
pertahanan lahan tidak diperkuat. “Lahan pertanian ini harus dilindungi. Ini
aset penting untuk cadangan pangan jangka panjang daerah. Jangan sampai kita
kehilangan semuanya karena lambannya penanganan infrastruktur,” lanjutnya.
Status Darurat: 10 Titik Sungai Melebar
Hasil pantauan lapangan menunjukkan kondisi sungai kini berada dalam tahap
darurat. Sedikitnya terdapat 10 titik yang mengalami perubahan
geometri secara signifikan; sungai semakin melebar akibat kikisan banjir
(abrasi), yang secara langsung "memakan" area persawahan warga.
Duta PAN ini menegaskan bahwa fenomena ini adalah alarm keras bagi
Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota Bima untuk segera membangun tebing
penahan (bronjong) atau normalisasi skala besar.
DPRD Siap Kawal Anggaran, Eksekutif Harus Eksekusi
Menutup pernyataannya, Aji Maman menegaskan komitmen legislatif dalam
mendukung kebijakan yang pro-rakyat. Namun, ia menekankan bahwa bola panas kini
berada di tangan eksekutif.
“DPRD siap mendorong dari sisi kebijakan dan penganggaran, tetapi
pemerintah daerah yang harus hadir secara nyata di lapangan. Jangan biarkan
warga terlalu lama menderita tanpa kepastian, baik soal rumah mereka yang
hanyut maupun lahan tani yang hilang,” pungkasnya.(Red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.