![]() |
| Sekda kota bima, Drs H Fakhrunraji |
Proyek
tersebut dirancang untuk meningkatkan kualitas penataan lingkungan sekaligus
menyelesaikan masalah banjir tahunan yang kerap melanda wilayah hilir Kota
Bima.
"Kolam
retensi kan sudah jalan, nantinya dilakukan penataan lebih baik dan ditanam
lebih banyak pohon," ujar Sekda Kota Bima, Drs. H. Fakhrunraji
dikonfirmasi usai hadiri Rapat Paripurna di Gedung DPRD, Kamis (15/5/2026)
Menanggapi
kritik publik terkait dampak fisik proyek? Fakhrunraji
menyatakan bahwa setiap pembangunan daerah pasti membawa konsekuensi perubahan
lanskap lingkungan. Saat ini Pekerjaan
fisik di lapangan terus berproses demi mengejar target fungsional
infrastruktur.
Disampaikan pula, bahwa Pemkot Bima menjamin akan menanam kembali lebih banyak pohon di sekitar
kolam untuk mengganti vegetasi terdampak. Sehingga status Ruang Terbuka Hijau
(RTH) tetap terjaga, malah penataannya akan lebih modern.
Untuk itu
dirinya menjamin tidak ada perubahan status hukum pada lahan RTH di Taman Ria.
Bahkan fungsi ekologis asli tetap dipertahankan, namun kini dioptimalkan dengan
konsep multi-fungsi (multi-purpose) demi keselamatan warga kota.
Pertama, selain untuk
kepentingan pengendalian banjir berkelanjutan, juga tujuan pembangunan kolam
retensi menjadi lokasi daerah resapan air, kemudian juga paling urgen menahan
reduksi air laut.
Multi fungsi pembangunan
kolam retensi ini sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan kedepannya. Termasuk
pada sektor pariwisata. Selain aspek ekologis
dan mitigasi banjir, Pemkot Bima memproyeksikan area Taman Dae La Kosa menjadi
pusat interaksi sosial yang estetik bagi warga perkotaan.
Untuk itu dirinya mengimbau publik memiliki cara pandang jauh ke depan demi mitigasi bencana
berkelanjutan.
Ditanyakan pembangunan
kolam retensi di kawasan Ama Hami? Jelas Sekda, tak ada masalah tetap akan
dilanjutkan pembangunannya.
Untuk informasi,
belakangan pembangunan kolam retensi di Taman Ria muncul polemik setelah adanya
aktivitas pemotongan pohon dilokasi proyek, pembangunan kolam retensi di Kota
Bima menelan anggaran Rp62 milyar bersumber dari Bank Dunia melalui program
Nufrep.(red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.