-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Wereng ‘Serbu’ Rumah di Kota Bima, Ini Penjelasan Kadis Pertanian

| Kamis, April 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-16T09:30:50Z
Wereng Daun Jagung
Kota Bima,JangkaBima.- Kepala Dinas Pertanian Kota Bima, Abdul Najir tanggapi fenomena banyaknya dijumpai sejenis nyamuk atau kini dikenal Wabah Wereng Daun Jagung yang meresahkan masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.


Ternyata hewan memenuhi lampu rumah dan dagangan warga itu dikenal dengan nama ilmiah Dalbulus Maidis.


Menurut Abdul Najir, fenomena ini terjadi setiap tahun ketika pada musim tanam jagung. Serangga kecil berukuran sekitar 3–4 milimeter ini memiliki ciri khas dua titik hitam di bagian kepala serta warna tubuh kekuningan hingga cokelat muda. 


Hama ini sebagai salah satu vektor penyakit pada tanaman jagung seperti bakteri penyebab tongkol kecil bahkan tidak berisi serta virus yang menyebabkan tanaman kerdil.


Jelasnya, bahwa wereng daun jagung memiliki siklus hidup yang relatif pendek dan cepat berkembang biak. Betina dewasa mampu menghasilkan ratusan telur sepanjang hidupnya, sehingga populasi dapat meningkat secara eksponensial dalam waktu singkat, terutama pada kondisi suhu hangat dan ketersediaan tanaman jagung yang terus menerus. 


Bisa turun drastis dalam waktu singkat dan akan muncul kembali jika kondisi mendukung. Ledakan populasi wereng daun jagung ini sangat dipengaruhi oleh pola tanam dan kondisi lingkungan. Di Kota Bima yang memiliki luasan pertanaman jagung cukup besar menjadi faktor yang mendukung perkembangan populasi hama tersebut. 


Puncak populasi umumnya terjadi saat fase vegetatif tanaman jagung karena sumber makanan melimpah, sementara sekarang musim tanam jagung Kota Bima sudah pada fase generative, sehingga tidak ada lagi sumber makanan yang menyebabkan wereng daun jagung bermigrasi ke rumah warga. 


Sementara fenomena masuknya wereng ke rumah-rumah warga pada malam hari bukan berarti rumah menjadi sumber serangan, melainkan akibat perilaku alami serangga tersebut yang tertarik pada cahaya. Lampu-lampu di permukiman menjadi daya tarik bagi wereng dewasa yang sedang bermigrasi dari lahan pertanian. 


Dari sisi dampak, fenomena ini tidak menimbulkan bahaya langsung bagi manusia karena wereng tidak menggigit maupun menularkan penyakit ke manusia. Salah satu faktor yang memperjelas fenomena kerumunan di pemukiman adalah sifat fototaksis positif dari Dalbulus Maidis yaitu kecenderungan tertarik pada sumber cahaya. Lampu rumah pada malam hari menjadi titik akumulasi serangga, sehingga warga sering mengamati keberadaan wereng dalam jumlah besar di dinding, jendela, maupun sekitar lampu. 


Abdul Najir sampaikan cara untuk mengurangi kehadiran mereka di rumah, yaitu dengan mematikan atau meredupkan lampu luar rumah yang terlalu terang, gunakan lampu warna kuning karena lebih sedikit manrik serangga, kurangi sumber cahaya yang langsung menghadap ke luar rumah, pasang kasa/jaring di jendela/ventilasi atau tutup pintu/jendela pada saat malam hari untuk menghindari serangga tersebut masuk ke rumah. 


"Penting untuk dipahami bahwa fenomena ini hanya bersifat sementara mengikuti dinamika populasi di lahan pertanian," ungkapnya.


Tambahnya, pada tanaman jagung, dampak serangan wereng daun jagung tidak hanya berupa kerusakan langsung akibat penghisapan cairan tanaman, tetapi juga kerusakan tidak langsung melalui penularan penyakit. Tanaman yang terserang umumnya menunjukkan gejala kerdil, daun menguning dan pertumbuhan terhambat. Dalam kondisi parah, serangan dapat menyebabkan penurunan hasil produksi yang dapat merugikan petani secara ekonomi.


Karena ini merupakan hama bagi tanaman jagung, upaya yang sudah dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kota Bima adalah memperkuat sistem peringatan dini dengan meningkatkan edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang baik seperti penanaman serempak, penggunaan varietas tahan, pengendalian gulma serta pemantauan populasi hama. 


Ini menjadi kunci penting untuk menekan siklus hidup hama dan mencegah ledakan populasi. Penggunaan insektisida menjadi pilihan terakhir yang dilakukan sesuai rekomendasi petugas lapangan. Dengan pendekatan yang terintegrasi antara pemerintah dan petani/masyarakat, insya Allah fenomena ini dapat dikendalikan secara efektif tanpa menimbulkan dampak yang lebih luas.(Red)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar



Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.