-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sekda Kota Bima: Inflasi 4,23 Persen Dipicu Sektor Non-Pangan, Harga Bahan Pokok Tetap Stabil

| Kamis, Mei 07, 2026 WIB Last Updated 2026-05-07T10:43:24Z

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima, Drs H. Muhammad.Fakhrunraji
Kota Bima,JangkaBima.-Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima, Drs H. Muhammad.Fakhrunraji, mengungkapkan bahwa kenaikan inflasi kumulatif yang mencapai 4,23 persen pada April 2026 dipicu oleh sektor-sektor di luar kendali pemerintah daerah.

 

Meski angka inflasi meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, hal ini dipastikan tidak mengganggu kondisi ekonomi dasar masyarakat karena harga bahan pokok tetap terkendali.

 

Dalam keterangannya, Sekda merinci empat faktor utama penyebab kenaikan tersebut, pertama Sektor Perawatan Diri mengalami kenaikan signifikan sekitar 13 persen. "Permintaan masyarakat terhadap perawatan diri seperti jasa salon dan produk skincare terus meningkat dibandingkan April 2025 dan 2026," jelasnya.

 

Kemudian Biaya Pendidikan, kenaikan biaya pendidikan tahun ini menjadi penyumbang inflasi karena perubahan pola pendidikan masyarakat. "Banyak anak-anak kita yang kini bersekolah di luar daerah, tidak hanya kuliah tapi juga banyak yang mondok di pesantren. Ini berpengaruh pada indeks biaya pendidikan.

 

 

Ketiga Transportasi, kenaikan biaya transportasi, terutama pesawat, menjadi faktor ketiga yang dominan akibat dampak penyesuaian harga BBM.

Terkahir Makan dan Minum Kemasan, terjadi kenaikan harga pada air minum kemasan di wilayah Bima, yang turut menyumbang angka inflasi kumulatif.

 

 

Ditanyakan upaya pemerintah daerah? Terkait langkah intervensi, Sekda menegaskan bahwa pemerintah daerah memfokuskan tenaga pada sektor yang bisa dikendalikan secara langsung.

 

Empat item tersebut (perawatan diri, pendidikan, transportasi, dan kemasan) berada di luar kendali pemerintah daerah karena bergantung pada mekanisme pasar dan tren permintaan yang terus naik “untuk harga bahan pokok saat ini tetap normal. Inilah yang kita kendalikan melalui operasi pasar secara rutin," tegasnya.

 

Pemerintah Kota Bima memastikan bahwa meskipun biaya gaya hidup dan jasa mengalami kenaikan, ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat tetap menjadi prioritas utama guna menjaga daya beli di tingkat akar rumput.

 

Seperti di Beritakan sebelumnya, Berdasarkan data terbaru dirilies Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima per April 2026, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Bima menyentuh angka 4,23 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,69. Angka ini menempatkan Kota Bima sebagai daerah dengan kenaikan harga paling signifikan di wilayah NTB.

 

BPS Kota Bima melalui pres riliesnya di laman https://bimakota.bps.go.id/id/  pada tanggal 4 Mei 2926 menyampaikan, Kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok pengeluaran (11 kelompok). Lonjakan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meroket hingga 12,80 persen, disusul oleh kelompok pendidikan sebesar 6,97 persen, dan kelompok makanan, minuman, serta tembakau sebesar 4,78 persen.

 

Secara spesifik, beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan antara lain, Emas perhiasan dan angkutan udara, Biaya pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi).(red)

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar



Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.