![]() |
| Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bima, Drs H. Muhammad.Fakhrunraji |
Meski angka inflasi
meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, hal ini dipastikan tidak
mengganggu kondisi ekonomi dasar masyarakat karena harga bahan pokok tetap
terkendali.
Dalam keterangannya,
Sekda merinci empat faktor utama penyebab kenaikan tersebut, pertama Sektor
Perawatan Diri mengalami kenaikan signifikan sekitar 13 persen.
"Permintaan masyarakat terhadap perawatan diri seperti jasa salon dan
produk skincare terus meningkat dibandingkan April 2025 dan 2026,"
jelasnya.
Kemudian Biaya Pendidikan, kenaikan
biaya pendidikan tahun ini menjadi penyumbang inflasi karena perubahan pola
pendidikan masyarakat. "Banyak anak-anak kita yang kini bersekolah di luar
daerah, tidak hanya kuliah tapi juga banyak yang mondok di pesantren. Ini
berpengaruh pada indeks biaya pendidikan.
Ketiga Transportasi, kenaikan biaya transportasi, terutama pesawat,
menjadi faktor ketiga yang dominan akibat dampak penyesuaian harga BBM.
Terkahir Makan dan Minum Kemasan, terjadi
kenaikan harga pada air minum kemasan di wilayah Bima, yang turut menyumbang
angka inflasi kumulatif.
Ditanyakan upaya
pemerintah daerah? Terkait langkah intervensi, Sekda menegaskan bahwa
pemerintah daerah memfokuskan tenaga pada sektor yang bisa dikendalikan secara
langsung.
Empat item tersebut
(perawatan diri, pendidikan, transportasi, dan kemasan) berada di luar kendali
pemerintah daerah karena bergantung pada mekanisme pasar dan tren permintaan
yang terus naik “untuk harga bahan pokok saat ini tetap normal. Inilah
yang kita kendalikan melalui operasi pasar secara rutin," tegasnya.
Pemerintah Kota Bima memastikan
bahwa meskipun biaya gaya hidup dan jasa mengalami kenaikan, ketersediaan dan
keterjangkauan pangan bagi masyarakat tetap menjadi prioritas utama guna
menjaga daya beli di tingkat akar rumput.
Seperti di
Beritakan sebelumnya, Berdasarkan data terbaru dirilies Badan Pusat
Statistik (BPS) Kota Bima per April 2026, inflasi tahunan (year on
year/y-on-y) Kota Bima menyentuh angka 4,23 persen dengan Indeks
Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,69. Angka ini menempatkan Kota Bima sebagai
daerah dengan kenaikan harga paling signifikan di wilayah NTB.
BPS Kota Bima melalui pres
riliesnya di laman https://bimakota.bps.go.id/id/
pada tanggal 4 Mei 2926 menyampaikan,
Kenaikan harga terjadi di seluruh kelompok pengeluaran (11 kelompok). Lonjakan
tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang
meroket hingga 12,80 persen, disusul oleh kelompok pendidikan
sebesar 6,97 persen, dan kelompok makanan, minuman, serta tembakau
sebesar 4,78 persen.
Secara spesifik,
beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan antara lain, Emas
perhiasan dan angkutan udara, Biaya pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan
Tinggi).(red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.