![]() |
| Ilustrasi |
Sidak yang dipimpin oleh Kepala Koperindag melalui Kepala Bidang Perdagangan, H. Sodiq, dilaksanakan ke sejumlah gudang pada 30 Oktober, dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke tingkat toko pada 2 November.
Dari hasil penelusuran lapangan, kelangkaan semen di Kota Bima berakar dari beberapa kendala logistik dan distribusi utama, diantaranya kendala transportasi laut.
Masalah utama yang dihadapi distributor adalah kendala pengiriman via kapal laut akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membuat biaya angkut meningkat.
Selain itu, minimnya muatan balik (muatan kosong dari Bima) membuat sebagian operator kapal enggan mengangkut semen. Meskipun saat ini telah diperoleh armada kapal dengan biaya yang lebih murah, distribusi belum sepenuhnya pulih.
Akibat kurangnya pasokan kemudian pembuat distributor terpaksa membatasi kuota dan itu terjadi seluruh semen, sehingga ada kenaikan harga ditingkat toko material.
Tambah H Sodiq, dari hasil sidak juga diketahui, untuk semen Tiga Roda mengalami kendala pengiriman sejak September hingga Oktober akibat hambatan kapal.
Sementara Bosowa stok terpantau kosong sejak Agustus hingga Oktober. Hal ini dipicu oleh kekurangan stok dari pabrik dan juga terjadi di wilayah Mataram, di mana pihak produsen sementara waktu memprioritaskan pasokan untuk memenuhi kebutuhan Pulau Lombok.
Semen Tonasa stok langsung habis seketika begitu diturunkan di lokasi peninjauan, sementara semen Conch dilaporkan mengalami kelangkaan sejak bulan September akibat masalah distribusi kapal yang sama.
Dampak kelangkaan ini dirasakan langsung oleh konsumen dan pedagang eceran. Di tingkat distributor, harga tebus mengalami kenaikan. Semen Tiga Roda harga sebelumnya berkisar Rp70.600 kini naik menjadi Rp72.100
Sementara itu, harga jual di tingkat toko melonjak lebih tinggi akibat rantai pasok yang tersendat dan biaya tambahan operasional bisa dikisaran Rp80.000/zak.
Lonjakan harga eceran ini turut dipicu oleh tingginya biaya operasional tambahan. Para pemilik toko harus mengeluarkan biaya ekstra akibat lamanya waktu antrean saat mengambil pasokan semen di tengah situasi yang terbatas ini.
Untuk menyiasati stok yang menipis, distributor terpaksa melakukan pembatasan atau penjatahan (kuota) kepada toko-toko pengecer. Dalam kondisi normal, sebuah toko dapat memasok 200 hingga 1.000 zak semen.
Kini, di tengah situasi langka, toko-toko hanya diberikan jatah sekitar 600 zak per minggu. Bahkan, dengan kuota yang terbatas tersebut, sebanyak 200 zak yang dikirimkan ke toko seringkali langsung habis seketika karena tingginya permintaan masyarakat.
Pihak Koperindag Kota Bima terus memantau perkembangan di lapangan guna memastikan distribusi dapat segera normal kembali dan meminimalisir dampak lanjutan bagi sektor konstruksi lokal.(Red)
#semen #langka #kotabima


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.