-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Fenomena Udara Kabur (haze) Kini Menyelimuti Wilayah Bima dan Dompu, Ini Penyebabnya

| Selasa, Oktober 13, 2026 WIB Last Updated 2026-10-13T09:58:45Z
Informasi potensi Karhutla di wilayah Bima dan Rompu
BIMA,JangkaBima.-Wilayah Bima dan Dompu saat ini tengah diselimuti fenomena udara kabur atau haze akibat musim kemarau berkepanjangan. Ditambah Minimnya curah hujan yang dikombinasikan dengan fenomena inversi suhu membuat partikel-partikel polutan bertahan lama di atmosfer dan memicu kekhawatiran terkait potensi kabut asap.


Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Metereologi Kelas II Sultan  Muhammad Salahuddin Bima, Moch Syaiful Annas dikonfirmasi, Selasa 13 Oktober 2026 menyampaikan, berdasarkan rilis data pengamatan angin atas (pibal) dari Stasiun Meteorologi Bima pada Senin (12/10) pukul 14.00 WITA, pergerakan angin di lapisan bawah dilaporkan relatif lemah.


Sementara pada lapisan 900–1800 meter, angin bertiup dari arah timur-tenggara dengan kecepatan 5 hingga 8 knot. Kondisi atmosfer yang cenderung statis ini menyebabkan partikel polutan menumpuk, sehingga udara kabur yang terjadi diduga kuat berasal dari aktivitas pembakaran lokal.


Potensi Asap dan Ratusan Hari Tanpa Hujan

Pantauan terbaru dari citra satelit Himawari-9 menunjukkan bahwa belum ada pergerakan asap yang signifikan di wilayah Bima dan Dompu. Kendati demikian, peta prediksi sebaran partikulat aerosol dari kebakaran biomassa mengindikasikan bahwa kedua wilayah tersebut tetap berpotensi terdampak sebaran kabut asap dengan intensitas rendah hingga sedang.


Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem, di mana wilayah Bima dan Dompu tercatat telah mengalami hingga 135 hari tanpa hujan. Faktor meteorologi ini menempatkan Indeks Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berada pada tingkat risiko yang mengkhawatirkan. Yaitu wilayah Kabupaten Bima dan Kota Bima masuk dalam kategori sangat tinggi. Kabupaten Dompu masuk dalam kategori tinggi.

 

Lonjakan Titik Panas dan Imbauan Masyarakat

Dalam 24 jam terakhir, data per 12 Oktober 2026 mendeteksi adanya 89 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Bima-Dompu. Rincian sebaran titik panas tersebut meliputi 60 titik di Kabupaten Bima, 26 titik di Kabupaten Dompu, 3 titik di Kota Bima.


Pihak berwenang menekankan bahwa keberadaan titik panas ini belum tentu menandakan kebakaran aktif dan masih memerlukan verifikasi langsung di lapangan. Namun, kombinasi antara udara kering dan maraknya hotspot sangat mendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Meskipun kondisi alam mendukung, faktor utama pemicu karhutla tetap didominasi oleh aktivitas manusia.

 

Hingga saat ini, kualitas udara di wilayah Bima dan Dompu dilaporkan masih berada dalam kategori sedang. Guna mencegah situasi memburuk, masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan pembakaran hutan, lahan, maupun semak belukar terutama di area yang rawan kekeringan karena kobaran api dapat meluas dengan sangat cepat.(red)


#kabudhaze #karhutla #bima #dompu #kotabima #kemaraupanjang #pembakaranlahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar



Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.