![]() |
| Informasi potensi Karhutla di wilayah Bima dan Rompu |
Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Metereologi Kelas
II Sultan Muhammad Salahuddin Bima,
Moch Syaiful Annas dikonfirmasi, Selasa 13 Oktober 2026 menyampaikan, berdasarkan
rilis data pengamatan angin atas (pibal) dari Stasiun Meteorologi Bima pada
Senin (12/10) pukul 14.00 WITA, pergerakan angin di lapisan bawah dilaporkan
relatif lemah.
Sementara pada lapisan 900–1800 meter, angin bertiup
dari arah timur-tenggara dengan kecepatan 5 hingga 8 knot. Kondisi atmosfer
yang cenderung statis ini menyebabkan partikel polutan menumpuk, sehingga udara
kabur yang terjadi diduga kuat berasal dari aktivitas pembakaran lokal.
Potensi Asap dan Ratusan Hari Tanpa Hujan
Pantauan terbaru dari citra satelit Himawari-9
menunjukkan bahwa belum ada pergerakan asap yang signifikan di wilayah Bima dan
Dompu. Kendati demikian, peta prediksi sebaran partikulat aerosol dari
kebakaran biomassa mengindikasikan bahwa kedua wilayah tersebut tetap
berpotensi terdampak sebaran kabut asap dengan intensitas rendah hingga sedang.
Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem, di mana
wilayah Bima dan Dompu tercatat telah mengalami hingga 135 hari tanpa hujan.
Faktor meteorologi ini menempatkan Indeks Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan
(Karhutla) berada pada tingkat risiko yang mengkhawatirkan. Yaitu wilayah
Kabupaten Bima dan Kota Bima masuk dalam kategori sangat tinggi. Kabupaten
Dompu masuk dalam kategori tinggi.
Lonjakan Titik Panas dan Imbauan Masyarakat
Dalam 24 jam terakhir, data per 12 Oktober 2026
mendeteksi adanya 89 titik panas (hotspot) yang tersebar di
wilayah Bima-Dompu. Rincian sebaran titik panas tersebut meliputi 60 titik
di Kabupaten Bima, 26 titik di Kabupaten Dompu, 3 titik di Kota
Bima.
Pihak berwenang menekankan bahwa keberadaan titik
panas ini belum tentu menandakan kebakaran aktif dan masih memerlukan
verifikasi langsung di lapangan. Namun, kombinasi antara udara kering dan
maraknya hotspot sangat mendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Meskipun kondisi alam mendukung, faktor utama pemicu karhutla tetap didominasi
oleh aktivitas manusia.
Hingga saat ini, kualitas udara di wilayah Bima dan Dompu dilaporkan masih berada dalam kategori sedang. Guna mencegah situasi memburuk, masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan pembakaran hutan, lahan, maupun semak belukar terutama di area yang rawan kekeringan karena kobaran api dapat meluas dengan sangat cepat.(red)
#kabudhaze #karhutla #bima #dompu #kotabima #kemaraupanjang #pembakaranlahan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar merupakan aspirasi pembaca dan tidak merepresentasikan pendapat JangkaBima. Mohon selalu sampaikan pendapat dengan sopan dan tidak melanggar SARA.